Minggu, 13 November 2022
coret-coret iseng
Minggu, 26 Juni 2022
Perjalanan Spiritual
Aku tidak tahu apakah aku adalah orang yang munafik.
Aku percaya adanya Tuhan. Aku meyakini adanya dzat atau energi dahsyat dibalik cara kerja alam semesta, namun skeptis dengan semua agama. Namun setelah sekian lama berkontemplasi, aku memutuskan untuk menjadi orang yang beragama, meski ada kontra dalam diriku, tapi aku sudah berkomitmen atas hal tersebut. Segala konsekuensi akan aku terima.
Awalnya, tujuanku menjelajahi banyak tempat peribadatan adalah untuk mencari kebenaran, namun aku menyadari bahwa itu naif sekali, memangnya ada kebenaran yang mutlak? Itu sungguh bias dan ambigu. Akhirnya aku mengubah niat dan tujuanku, adalah untuk belajar, memperbanyak wawasan, juga refreshing.
Semua agama memiliki kontroversinya masing-masing. Aku tahu itu. Tapi, aku ingin beragama karena keputusanku sendiri, berdasar dari pengetahuan yang kudapatkan, bukan dari leluhurku, bukan karna aku Islam sejak lahir.
Ya Tuhan, aku tidak tahu apakah Engkau marah terhadapku atau justru sebaliknya. Aku tetap melantunkan kata maafku setiap hari. Kalaupun Engkau marah, mungkin aku memang pantas mendapatkannya. Tetapi sungguh aku hanya ingin mengenal-Mu, mengenal diriku. Aku tetap mengharapkan ampunan dan kasih sayang-Mu.
Dearest Tuhan dan seluruh unsur semesta, mohon bersahabatlah denganku. Jangan lepas aku sendirian di tengah-tengah perjalananku di dunia yang penuh dengan ambiguitas ini.
Jumat, 27 Mei 2022
Kamis Ceria
Kamis, 26 Mei 2022
Aku, Tika, Okta, dan Trimul bepergian ke Pantai Kesirat.
Tika menjemputku di kos pukul 5 pagi, lalu menuju kos Okta dan Trimul. Lalu perjalanan dimulai sekitar pukul setengah 6. Perjalanan menuju Pantai Kesirat memakan waktu satu setengah jam. Kami tiba di Pantai Kesirat pukul 7. Untuk dapat melihat pantai, kami berjalan kaki melewati jalan setapak yag sudah dicor. Aksesnya sudah bagus dan mudah. Setelah kelelahan dan sangat kedinginan ketika dalam perjalanan tadi, kami disuguhi keindahan Pantai Kesirat. Ini adalah kali pertama aku melihat pantai berwarna hijau kebiruan. Cantik sekali. Selama ini di Jawa Timur, pantainya berwarna coklat, hahahah, yaaa maklum pantai utara. Pantai selatan menjelang sedang pasang, dan ombak besar, karna angin Monsun Australia. Ah, debur ombak yang menghatam tebing-tebing yang cadas terlihat mematikan namun menawan.
Setelah puas menyaksikan hamparan biru dan debur ombak, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Wohkudu, sekitar pukul 8. Pantai Wohkudu berada di sebelah Pantai Kesirat, yang membuat mereka berbeda adalah permukaannya. Di Pantai Kesirat, kami tidak tersentuh air laut karena spotnya berupa tebing tinggi, sedangkan Pantai Wohkudu terdapat pasir, dan kami bisa bermain air. Akses menuju Pantai Wohkudu tidak sebagus ke Pantai Kesirat, ia masih berupa jalan terjal, bebatuan, curam, dan licin.
Pukul setengah 11, kami memulai perjalanan pulang. Hujan sangat lebat. Setengah 2, kami mampir makan. Di Ayam Geprek Sa'i. Seharusnya Olive saja, murah, wkwkwk.
Sampai kos pukul setengah 3, saya tidur sebentar. Kemudian pukul 5 saya berangkat ke kampus untuk bermain karawitan, hingga pukul 11 malam. Banyak senior yg datang sehingga latihan bisa maksimal dan saya belajar bermain kendang. Sangat lelah tapi juga sangat menyenangkan.
Senin, 23 Mei 2022
Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Pringwulung
Saya menunggu momen ini, momen di mana saya bisa menulis sesuatu yang istimewa di blog.
Kemarin, tanggal 22 Mei 2022 pukul 16.30 WIB, saya dan teman satu kos (Ferda dan Sogen) juga Gita dan satu temannya lagi berangkat ke gereja pringwulung.Merayakan Misa. Saya telah merencanakan dan menantikan hari tersebut sejak lama. Kami menggunakan layanan maxim. Pukul 17.00 kami tiba di gereja. Turun dari mobil, saya merasakan euforia. Langkah demi langkah, akhirnya saya masuk ke gereja. Megah, tenang, nan ramai. Melihat patung Yesus dengan salibnya, juga Bunda Maria. Terdapat seperti air suci saat memasuki gereja, saya tidak tahu itu air apa, dan saya juga tidak tahu bagaimana seharusnya saya menggunakannya hahah. Kami berjalan ke depan, mencari kursi kosong. Menunggu beberapa saat, nyanyian demi nyanyian mulai memenuhi atmosfer gereja. Mendengarkan MC dan Uskup dengan seksama. Mengamati segala sesuatu di sekitar saya, seperti cara mereka memberi penghormatan dengan sedikit berlutut sebelum duduk di kursi masing-masing, Sang Uskup yang membentangkan kedua tangan seraya mengajak umat berdoa. Nyanyian, kajian, nyanyian, kajian, dan berdoa. Di akhir ritual, juga ada pembagian hosti, roti sakral yang sudah diberi berkat. Saya tidak berhak mendapat hosti tersebut, jadi saya hanya duduk saat teman-teman mengambil hosti, juga ada beberapa orang yang tidak mengambil hosti dikarenakan merasa dirinya masih banyak dosa dan seolah-olah tak berhak mendapatkannya.
Waktu itu, di tengah ritual, saat Uskup memberi ceramah, ada hal yang saya garis bawahi, ialah tentang Roh Kudus. -Saya dulu pernah hampir memutuskan untuk menjadi seorang atheis, namun saya bukan tipikal orang yang gegabah dalam mengambil sebuah keputusan besar, waktu demi waktu, saya meyakini adanya Tuhan. Saya meyakini bahwa di balik semesta ini, ada sesuatu yang dahsyat yang tidak mampu dipecahkan dengan mudah, tak mampu dinalar bahkan oleh seorang berilmu. Saya meyakini adanya Tuhan, namun skeptis dengan agama. Namun pada akhirnya, saya memutuskan untuk berkomitmen dalam Islam, meski semua terasa hambar.- Saat mendengar ceramah Uskup, saya mulai mantap terhadap Islam. Saat ini, saya adalah orang yang mengimani Tuhan namun skeptis dengan agama, adapun agama yang kemarin dan saat ini saya ikuti adalah Islam. Saya tidak perlu menjelaskan apapun yang saya tangkap dari ceramah Uskup. Biarkan itu menjadi warna-warni dalam pikiran saya.
Sungguh, ini adalah perjalanan spiritual yang menyenangkan. Saya masih akan melanjutkan perjalanan ini. Selanjutnya saya akan ke gereja protestan. Motif saya melakukan hal ini adalah untuk mencari cat, menambahkan warna baru pada kanvas saya. Hidup ini seperti lukisan. Kita mendapat hak untuk memberi warna padanya sesuai dengan yang kita mau, meski hak itu tidak 100%. Saya tidak akan bilang ini Lillahi Ta'ala, saya tidak mau membawa nama Tuhan dalam hal ini, saya bahkan tidak melegalkan tindakan saya, saya tidak tahu apakah Tuhan akan marah pada saya karena hal tersebut, tapi saya harap Tuhan tidak marah pada saya. Saya ingin belajar, saya ingin mengenal-Nya dengan cara yang saya kehendaki. Saya ingin mengenal siapa saya, Tuhan saya, dan makhluk-makhluk-Nya. Saya ingin memahami manusia sebagai manusia. Menurutku, tiga hal yang seksi dan menarik dalam dunia ini adalah ilmu pengetahuan, cinta, dan Tuhan.
Untuk ibu, tulisan ini aku persembahkan untukmu. Sengaja tidak memberi tahu melalui Whatsapp dikarenakan agar tidak mengetik dua kali hahahah. I Love You, Ibuk. Mmuuach.
Sabtu, 14 Mei 2022
Stadiun Maguwo
Sore tadi sekitar pukul 16.30, saya dan Mbak Atin main ke Stadiun Maguwo. Terdapat semacam pasar malam di sana. Kami beli dimsum, setelah itu berteduh karna hujan. Setelah hujan reda, kami bingung ingin kemana. Apakah pulang atau naik wahana. And then... finally, kami naik kapal bajak laut. And you know what? I DO REALLY HAPPYYY!! Saya puas berteriak, melepas semua beban, ah, rasanya lega sekali. Alhamdulillah...
Dear Mbak Atin, Thank you so much yaaa. Anda mungkin tidak tahu betapa saya sangat bersyukur saat itu. Semoga Allah selalu menjagamu dari malapetaka yang datang dari arah manapun... kapanpun dan dimanapun mbak berada. Kesehatan, kebahagiaan, juga kebaikan semoga selalu menemani hari-harimu.
Kalau begini, kenangan-kenangan baik datang mengeroyok hahaha. Orang-orang yang berjasa besar selama saya di jogja, aku selalu berterima kasih pada kalian. AMPTA, Marisa, Tika, temen2 senasib seperjuangan seperti Okta, Suci, Novi, dan masih banyak lagi, You all made my day!!! Saya menyayangi kalian.
Kamis, 12 Mei 2022
Enigma
Malam ini aku ingin menulis, tapi tidak tahu ingin menulis apa. Baiklah, akan kumulai dengan apa yang pertama terlintas dalam pikiranku.
Beberapa hari yang lalu aku merasa sedang jatuh cinta. Saat itu aku menyadari beberapa hal tentang diriku. Tentang aku yang telah lama menjomblo dengan alasan yang aku sendiri tak tahu pasti. Aku merasa telah membohongi diri sendiri selama bertahun-tahun. Aku selalu kesulitan menjawab ketika seseorang bertanya mengapa aku masih single. Ada bermacam variasi jawabanku, beberapa di antaranya adalah karena belum ada yang cocok; belum minat pacaran; masih senang dan antusias belajar; malas pacaran; ribet; dll. Namun sekarang aku menyadari sebuah fakta mengapa aku tidak pacaran. -Ah, aku tidak suka mengakui hal ini, dan aku telah menyangkalnya selama bertahun-tahun,- bahwa aku terlalu pengecut untuk memulai sebuah hubungan. Ya!. Aku memiliki trauma yang amat dalam. Tapi aku selalu menyangkalnya, aku baik-baik saja kok! Siapa juga yang trauma? Oh Gosshhh, Zah... What's wrong with you?? Ayolah, itu sudah tertinggal jauh di belakang.
Saya baru menyadari bahwa rasa trauma ini berpengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan. Ada banyak cacat logika saat saya berpikir, meskipun hasilnya tidak terlalu buruk, tapi cukup gila.
Begitu dulu saja. Sepertinya saya akan bersiap untuk tidur.
Salam
Rabu, 11 Mei 2022
Menyapa 2022
Halo 2022...
Sudah lama tidak menulis, padahal dulu janjinya akan lebih rajin menulis agar tidak kehilangan ide dan pemikiran-pemikiran yang pernah berkecamuk.
Hari ini aku merasa lelah. Entah kenapa. Aku juga merasa malas menulis ini, tapi aku memaksa diri untuk mulai menulis lagi. Ya. Lagi.
Saat ini usiaku 21 tahun. Aku merasa banyak perubahan dalam diriku. Sisi introverku mulai dominan. Aku semakin tenang dan tidak gegabah dalam berbicara. Aku lebih sering mendengar dan mengamati lawan bicara. Aku lebih memperluas ranah privasiku. Aku sudah nonaktif instagram sejak pertengahan tahun 2021. Saat ini hanya bermain dua media sosial yaitu WA dan Quora.
Aku senang sekali membaca di Quora. Asik. Isu yang sering aku ikuti adalah psikologi, ekonomi, sains, kadang politik, oh iya, juga otomotif. Aku sekarang juga sedang melanjutkan membaca buku yang telah lama tidak aku hiraukan, ialah Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Aku membaca secara perlahan dan seksama, mengingat diriku pernah hampir memutuskan untuk menjadi atheis dan beberapa saat menjadi agnostik. Aku pikir ini akan membantuku merenungi kecacatan-kecacatanku dalam berlogika.
Sepertinya begitu saja dulu. Aku ingin tidur. Semoga kesehatan, kebahagiaan, kebaikan, dan keselamatan senantiasa menemani hari-hari kita.
Salam...