Dalam
kajiannya, Dr. Fahruddin faiz pernah mengutip quotes dari
seorang
filsuf (aku lupa, tapi sepertinya Albert Camus),
katanya begini:
"Should i kill myself or have a cup of
coffee", lalu disusul dengan kalimat "Hidup
ini memang absurd, maka terima dan hadapilah absurditas tersebut"
Aku mendengar kajian
tersebut tepat pada saat pikiranku sedang kalut. Aku memikirkan beberapa hal
yang sebenarnya aku sempat tak sanggup menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan absurd
muncul begitu saja. Seperti halnya; Mengapa
Tuhan sangat membela orang tua? Mengapa ada istilah anak durhaka? Mengapa anak
harus hati-hati dalam memperlakukan orang tua? Maka jawaban yang paling
umum adalah karena orang tualah yang sudah
mengandung kita selama kurang lebih 9 bulan dalam perut, betapa berat dan sulit
juga penat, lalu mereka melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, kemudian
merawat dan membesarkan dengan baik. Baiklah, jawaban tersebut sangat
masuk akal, tapi jika dipikir-pikir lagi, Memangnya
pernahkan kita minta untuk dilahirkan? .
Dari sini dapat diambil
kesimpulan bahwa orang tua tidak berhak bahkan tidak pantas mengungkit
pengorbanannya selama membesarkan
anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan posisi kita sebagai seorang anak? Apakah kita bisa menyalahkan orang tua atas kelahiran kita yang tidak kita inginkan? Mari
simak tulisan berikut.
Terlepas dari kita
adalah seorang anak, aku teringat fakta lain bahwasanya kita adalah seorang
hamba. Hamba yang diamanahi oleh Tuhan untuk melakukan suatu hal di dunia ini.
Memang itu berat, siapa yang ingin mencicipi kehidupan dunia yang penuh
permainan dan fana ini. Mau bagaimanapun juga, kita tetap hamba dan Tuhan tetap
Tuhan. Jadi, kita harus tahu visi dan
misi kita, siapa kita, apa peran kita.
Hidup ini memang berat dan penuh absurditas, namun apakah kita harus
bunuh diri? Itu bukanlah pilihan, maka kita harus Menerima
dan Menghadapi absurditas kehidupan. Tuhan mempercayai kita memainkan
peran di dunia melalui lahirnya kita dari rahim seorang ibu, dan mungkin salah
satu tugas awal kita adalah mengukir senyum di wajah orang tua kita. Jadi
kesimpulannya sebagai seorang anak, kita harus menghormati perjuangan orang tua
yang telah membantu kita bertahan hidup untuk menjalankan perintah-perintah dan
amanah dari Tuhan.
Filsuf itu benar,
jika kita tidak menerima dan menghadapi absurditas kehidupan, maka kita menjadi
seorang pengecut, manusia yang tidak maju, pemikiran cupet dan dangkal. Jika
kita stres dan merasa tidak sanggup menghadapi beratnya kehidupan, daripada bunuh
diri alangkah lebih baiknya jika ayo ngopi
saja.
Di dunia ini banyak
sekali hal-hal absurd, pertanyaan-pertanyaan absurd, tapi di sisi lain juga
selalu ada jawaban-jawaban absurd pula. Hahahha. Jadi jika kita mendapati
hal-hal absurd yang merugikan hidup kita, maka alangkah lebih baik jika kita
menangguhkan hal tersebut sampai kita mendapat jawaban yang masuk akal sehingga
kita bisa tetap maju dalam menjalani kehidupan.
Sekali lagi, saat
ini kalian berada dalam isi kepalaku. Jika kalian memiliki kritik, saran,
maupun argumen lain, dan ingin mendiskusikannya, silahkan tulis di kolom
komentar atau hubungi saja aku di kontakzizah@gmail.com . Aku akan sangat senang
mendengarnya.
Terima kasih dan mohon maaf atas tulisanku jika itu melukai perasaanmu.
Keep Healthy and
HappyðŸŒ
Salam🌻